Langsung ke konten utama

Kriteria Pasangan Hidup yang Berkarakter Surgawi


Kriteria Pasangan Hidup yang Berkarakter Surgawi


Kriteria Pasangan Hidup yang Berkarakter Surgawi
Jika kita adalah suami atau istri yang mencintai pasangan, ingin menikah kembali dan menjadi pasangan surga kelak. Foto ilustrasi/ist
Pasangan hidup yang saleh adalah sumber kebahagiaan, karena dengan kesalehannya Allah Ta'ala berkenan memberikan sentuhan-sentuhan keberkahan yang jauh melampaui dugaan kita. Rezeki yang penuh manfaat, lahirnya buah hati yang cerdas, keluarga selalu harmonis, nikmat selalu terasa cukup bahkan berlebihan adalah sedikit dari berkah-berkah kesalehan itu.

Untuk mewujudkan itu, Allah Ta'ala telah mengilhamkan kepada manusia sebuah tata cara, sistem kehidupan manusia yang detail dan lengkap melalui Al-Qur'an. Ibarat mesin yang dilengkapi dengan handbook dan petunjuk pemakaian, manusia pun diberikan manual book-nya oleh Sang Pencipta dengan diturunkannya Al-Qur'an.

Baca juga: Mau Menikah? Ini Hadis-hadis Pernikahan yang Penting untuk Diketahui

Apabila petunjuk itu dipahami dan dijalankan dengan sebenar-benarnya, insya Allah kehidupan yang berlangsung di muka bumi akan berjalan dengan damai dan selamat. Teori dan praktek memang tidak selalu sama, tetapi kita semua berusaha untuk berada dalam posisi paling dekat dengan apa yang digariskan oleh Allah Ta'ala dalam A-Qur'an.

Salah satu sistem yang dirumuskan garis besarnya dalam Al-Qur'an dan dirinci dalam Hadis Nabi adalah petunjuk tentang pernikahan. Pernikahan adalah salah satu cara yang digariskan oleh Allah untuk menjaga keberlangsungan hidup dan kekhalifahan manusia di bumi. Dibuatlah aturan pernikahan yang sesuai dengan fitrah dan tujuan utama pernikahan itu sendiri.

Pernikahan adalah tempat untuk mempertemukan kecenderungan dua jenis manusia dalam lembaga yang kokoh. Diharapkan orang-orang yang berkumpul di dalamnya merasa nyaman, tenang, dan tenteram. Pernikahan menjadi rumah terhangat yang paling menyenangkan bagi setiap anggotanya.

Suami dan istri melabuhkan lelahnya di rumah, anak-anak pertama kali membagi suka-dukanya kepada saudara kandung dan orangtuanya. Ayah dan ibu menjadi penerang jalan bagi anak-anaknya. Anak-anak menjadi cahaya penyejuk bagi orangtua. Di dalamnya tertanam rasa kasih sayang yang menjadi dasar tumbuhnya benih-benih kebaikan, produktivitas, dan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS Ar-Rum : 21)

Namun tujuan mulia ini sering mengalami tidak sesuai dengan kenyataannya. Fakta di lapangan , sering jauh panggang dari api. Suami yang abai tanggung jawab. Istri yang tidak memahami posisinya. Orangtua yang tidak bersahabat dan enggan mendengarkan anak-anaknya. Anak yang durhaka kepada orangtuanya. Betapa banyak jiwa yang menangis karena terabaikan oleh darah dagingnya sendiri. Sungguh pemandangan yang mengiris hati.

Ini terjadi karena para suami dan istri tidak sepenuhnya mengerti apa yang diilhamkan Allah Ta'ala di dalam wahyu-Nya dan sunnah Rasulullah-Nya, tidak menggigitnya kuat-kuat dengan gigi gerahamnya. Karena di tangan para suami dan istri inilah diletakkan dasar-dasar dalam membangun keluarga yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang. Suami dan istri itulah yang harus mengerti apa yang ditunjukkan Islam untuk mencapai keluarga yang tenteram.

Dikutip dari Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam kitabnya ' Shifat Az-Zauj wa Az-Zaujah Ash-Shalihah' dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh yang paling ideal dalam tataran praktek dan aplikasi sistem pernikahan. Dalam catatan sejarah yang direkam dalam Hadits Nabi, meski rumah tangga Rasulullah adalah rumah tangga yang ideal, namun tetap ada konflik seperti yang biasa terjadi dalam rumah tangga kita juga.

Nabi dan istri-istrinya adalah manusia yang memiliki fitrah yang sama dengan kita. Dari sanalah kita selalu belajar untuk menjadi yang terbaik dalam tujuan pernikahan. Dengan menjalaninya sepenuh hati dan semaksimal potensi, kita menjadi agen dalam misi manusia di muka bumi. Tidakkah itu ibadah yang luar biasa? Allah menjanjikan surga-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Baca juga: 2 Perasaan Cemburu Menurut Ibnu Taimiyah

Jika kita adalah suami atau istri yang mencintai pasangan, ingin menikah kembali di surga kelak, berikut karakter suami dan istri yang diajarkan Rasulullah untuk menjadi sebuah kebiasaan, atau menjadi suami istri berkarakter surgawi.

Karakter suami yang shaleh :

1.Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
2.Memilih perempuan yang saleha untuk menjadi pendampingnya.
3.Memerintahkan keluarganya untuk shalat.
4.Tidak mendekati istrinya ketika sedang haid.
5.Menggauli istrinya di tempat lahirnya anak.
6.Memberi makanan halal untuk diri dan keluarganya.
7.Tidak menjauhi istrinya lebih dari 4 (empat) bulan.
8.Tidak meminta pertolongan ahli sihir dan paranormal
9.Mengikuti petunjuk Islam ketika meluruskan istrinya.
10.Menggauli istrinya dengan baik.
11.Menjaga perasaan dan kehormatan dirinya.
12.Tidak mengabaikan hak mahar dan nafkah istrinya.
13.Berlaku adil kepada istri-istrinya ketika berpoligami.
14.Menceraikan istrinya secara baik-baik ketika memutuskan untuk talak.
15.Tidak melamar calon istrinya dalam masa iddah.
16.Mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah talak.
17.Berbakti kepada orangtua dan menjaga tali silaturahim.

Karakter istri yang saleha :

1.Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
2.Menjaga diri ketika suaminya tidak ada.
3.Menghormati suami dan memuliakannya.
4.Taat kepada suaminya.
5.Tidak keluar rumah kecuali seizin suami.
6.Mengikuti petunjuk Islam dalam menasihati suami.
7.Tidak berhias kecuali untuk suaminya.
8.Ridha dan rela dengan apa yang Allah berikan untuknya.
9.Tidak berpuasa sunnah kecuali seizin suami.
10.Menjaga harta suami.
11.Tidak menampakkan apa yang Allah perintahkan untuk disembunyikan.
12.Tidak melakukan tindakan yang membahayakan janinnya.
13.Menyusui anaknya sendiri.
14.Hemat dalam hidup.
15.Memerhatikan pendidikan anak-anaknya.
16.Menjaga, melayani, dan membantu suaminya.
17.Menetapi masa iddah saat suaminya meninggal. (Baca juga : Inilah Potret Istri Saleha dan Penyejuk Hati Suami )

Sebuah anugerah besar, bila suami dan istri bisa memiliki karakter surgawi tersebut, yang senantiasa membuat pasangannya bahagia.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat Mengajarkan Batasan Aurat Anak?

Wallahu A'lam
(wid)
22Shares
facebook sharing button
twitter sharing button
whatsapp sharing button
telegram sharing button
linkedin sharing button

Hadits of The Day
Dari Umar bin Al Khaththab, Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: 

"Maukah kalian aku beritahu pemimpin kalian yang terbaik dan pemimpin kalian yang terburuk? 

Pemimpin yang terbaik adalah mereka yang kalian cintai, dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan kepada mereka, dan mereka pun mendoakan kebaikan kepada kalian, 

Sedangkan pemimpin kalian yang terburuk adalah mereka yang kalian benci, dan merekapun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian."



(HR. Tirmidzi No. 2190)
Baca Juga
REKOMENDASI
Artikel Terkini
Follow us:
facebook sharing button
twitter sharing button
instagram sharing button
youtube sharing button
tiktok sharing button

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Keutamaan Sifat Tawadhu Bagi Muslimah, Nomor Terakhir Jalan Menuju Kemuliaan..

Tawadhu atau sifat rendah hati yang dimiliki seorang muslimah merupakan sebuah akhlak dalam Islam yang tergolong ke dalam akhlak terpuji. Foto ilustrasi/ist Tawadhu   atau sifat rendah hati yang dimiliki seorang muslimah merupakan sebuah akhlak dalam Islam yang tergolong ke dalam akhlak terpuji.  Tawadhu   dalam Islam berarti seseorang menempatkan dirinya lebih rendah di hadapan Allah dan hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta'ala. Firman Allah Ta’ala : وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “ Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman “.(QS Asy-Syu'ra : 215) Kita ketahui, bahwa segala perkara yang ada dalam Islam pasti memiliki keutamaan dan keburukan bagi yang melakukannya, dan dalam perkara rendah hati, seseorang yang melakukan atau memiliki  sikap rendah hati   akan mendapatkan beberapa keutamaan dari sikap rendah hati ini. Baca juga:  Inilah Ciri-ciri Pribadi Muslimah yang Tawadhu   ...

04.02.2022 DO'A UNTUK JAMAAH KULTUM 141.200

Ustadz Yachya Yusliha Yaa Allah Yaa Rabb kami.. Di Hari Jum'at tahun 2022 ini, Tiada putus Doa terus kami Munajatkan untuk  Bapak-bapa ibu semuanya Di BARAYA KULTUM /PAGUYUBAN KULTUM Semoga Doa yang kami munajatkan senantiasa Allah swt qobulkan_. Yaa Allah...Yaa Rahman Yaa Rahiim... Hari ini dan seterusnya Limpahkan kasih sayang Mu Untuk keluarga kita semua di 141.200 dan 141.380 mhz      Dengan kesehatkan jiwa dan raganya, bahagiakan kehidupan di dunia dan muliakan di akhirat kelak, berikan kelancaran untuk usaha, karir dan semua urusannya, luaskanlah rezekinya dari arah yang tidak disangka² dan berikanlah umur yang panjang serta Barokah dan bermanfaat_  _Yaa Allah Yaa Razaq... _Jadikanlah kultum ini      Sentuhan Qolbu ini, tempat ladang amal untuk  Beliau sekeluarga, jadikanlah  amalannya pembuka pintu²      Rahmat dan Rejeki Mu yang lebih besar lagi, serta pintu pintu janah Mu dari pintu sedekah...

HAJI DEEX

009 Haji Deek Bendahara